Perbanyak Doa Ini, Apabila Ingin Bertemu Malam Lailatul Qadar

Perbanyak Doa Ini, Apabila Ingin Bertemu Malam Lailatul Qadar


Bulan Ramadhan memang suatu bulan yang sangat berbeda sama sekali dengan bulan-bulan lainnya. Kita sebagai umat Islam tentu sangat bahagia menyambutnya, pasalnya karena bulan ini sangat penuh dengan berkah dan keutamaan. Selain itu, ada suatu malam yang sangat mulia daripada malam yang lain di bulan tersebut, malam tersebut adalah malam lailatul qadar.

Malam lailatul qadar tidak pernah disebutkan seacara pasti kapan hadirnya. Tetapi terdapat beberapa tanda yang menandakan akan hadirnya malam tersebut. Sehingga kehadirannya sangat ditunggu oleh semua umat Islam. Salah satu keutamaan pada malam tersebut adalah lebih baik daripada seribu malam dan akan dilipatgandakan pahalanya.

Sebagai umat Islam, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah setiap saat terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan mengharap bertemu malam lailatul qadar. Hal ini dikarenakan tidak ada yang mengetahui kapan datangnya malam lailatul qadar. Sebagaimana Rasulullah yang senantiasa memperbanyak amal ibadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah. Rasulullah bersabda,

Aisyah pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, andaikan aku mengetahui lailatul qadar, apa yang bagus aku baca?’ Rasulullah menjawab, ‘Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku).’
. (HR: al-Tirmidzi, al-Nasai, Ibnu Majah)

Dari hadist tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bawha kita dianjurkan untuk membaca doa berikut sebanyak-banyaknya:

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’

Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku

Karena kita tidak mengetahui sama sekali kapan waktu datangnya malam lailatul qadar secara pasti, maka doa tersebut tentu boleh diamalkan dan dibaca setiap hari selama bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Semoga senantiasa dengan mengharap ridha dan rahmat Allah SWT, kita akan mendapatkan pelajaran dari satu bulan penuh bulan suci Ramadhan. Dan semoga dari Ramadhan tahun ini kita dapat meningkatkan pribadi kita menjadi hamba yang senantiasa mengabdi kepada Allah SWT.

Memanfaatkan Harta Agar Berkah Di Akhir Ramadhan

Memanfaatkan Harta Agar Berkah Di Akhir Ramadhan

Sebagai umat Islam, semestinya harus menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh ampunan serta keistimewaan ini dengan penuh suka cita. Pasalnya, apa pun kita kita kerjakan selama dalam hal kebijakan maka senantiasa Allah SWT akan melipatgandakannya, tak terkecuali dengan bersedekah atau memanfaatkan harta agar berkah kepada kita.

Kita tentu sudah sering mengenal tentang sedekah, zakat, dan nafkah. Persemaan yang sangat bisa kita temukan adala bahwa hal tersebut sama-sama menggunakan harta atau materi sebagai penunjangnya. Maka dari itu, setiap harta yang kita miliki haruslah kita gunakan sebaik mungkin, terlebih dalam bulan Ramadhan ini. Sebagian dari ulama menjelaskan bahwasannya harta yang kita keluarkan dibagi menjadi tiga kebaikan, yaitu:

1. Harta yang kita keluarkan untuk kebutuhan pribadi dan keluarga. Bentuk pengeluaran yang sepert itu lebih utama daripada bentuk pengeluaran harta lainnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari).

2. Kewajiban menunaikan zakat dan hak Allah SWT. Menurut beberapa ulama menyatakan bahwasannya barang siapa yang membayar zakat maka dia sudah lepas dari sifat pelit.

3. Sedekah tathowwu’ atau sedekah sunnah misalnya membeari nafkah kepada kerabat jauh ataupun teman guna menyambung rasa kekerabatan dan keharmonisan sosial, termasuk juga memberi makan dan minum kepada orang-orang yang kelaparan.

Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarh Bukhari menjelaskan bahwasannya, “Barangsiapa yang menyalurkan harta untuk tiga jalan di atas, maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).”

Semoga kita senantiasa selalu ikhlas dalam memberi nafkah dan sedekah baik yang wajib maupun sunnah. Karena dengan amalan itulah kita terhindar dari sifat pelit yang sangat dibenci oleh Nabi Muhammad SAW dan juga Allah SWT. Terlebh lagi saat ini kita masih bisa merasakan serta menikmati bulan suci Ramadhan dan jangan pernah menyia-nyiakannya salah satunya dengan memperbanyak sedekah.

Konsekuensi Hubungan Badan Di Siang Bulan Ramadhan Menurut Abu Syuja

Konsekuensi Hubungan Badan Di Siang Bulan Ramadhan Menurut Abu Syuja


Abu Syuja’ rahimahullah berkata,

وَمَنْ وَطِئَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَامِدًا فِي الفَرْجِ فَعَلَيْهِ القَضَاءُ وَالكَفَّارَةُ وَهِيَ : عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا لِكُلِّ مِسْكِيْنٍ مُدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan hubungan seks di siang hari Ramadhan secara sengaja di kemaluan, maka ia punya kewajiban menunaikan qadha’ dan kafarat. Bentuk kafaratnya adalah memerdekakan 1 orang budak beriman. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin yaitu setiap satu orang miskin mendapatkan 1 mud.”

Di dalam kitab kitab Fath Al-Qarib dijelaskan bahwasannya, “Orang yang terkena hukuman di sini adalah mukalaf (baligh dan berakal) yang berniat berpuasa sejak malam hari. Ia terkena dosa karena melakukan hubungan seks di saat puasa.”

Dalam kitab lain yang berjudul Kifayah Al-Akhyar karangan Muhammad Al-Hishni dijelaskan bahwa, “Siapa yang merusak puasa Ramadhannya dengan jimak (hubungan seks), maka dicatat baginya dosa.”

Sedangkan pendapat yang dianut dalam madzab Imam Syafi’i adalah barang siapa yang melakukan hubungan badan (seks) dalam keadaan lupa, maka tidaklah batal puasanya.

Apabila seseorang berhubungan badan pada siang hari bulan Ramadhan, maka wajib bagi orang tersebut membayar kafarat (denda). Hukum yang diberikan dalam hal ini tentu berbeda dengan hukum orang yang makan dan minum di siang Ramadhan, dan tidak dikenakan kafarat.

Dalam kitab Kifayah Al-Akhyar, dijelaskan bahwasannya bagi orang yang dikecualikan untuk berpuasa atau mendapat keringanan. Maka tidaklah dosa dan tidaklah mendapat kewajiban membayar kafarat apabila ia berniat mengambil keringanan tersebut dan melakukan hubungan badan di siang hari bulan Ramadhan.

Menurut jumhur ulama, bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan yang melakukan jimak baik tanpa disengaja ataupun tidak maka puasanya batal, wajib qadha puasa, dan membayar kafarat. Terlepas dari keluarnya mani atau tidak. Demikian dengan wanita yang berhubungan badan dengan pasangannya baik dipaksa atau tidak maka puasanya batal. Tidak ada perdebatan ulama terkait hal ini. Namun yang menjadikan perbedaan adalah apakah laki-laki dan perempuan sama-sama dikenai kafarat.

Ktiteria kafarat yang harus dibayarkan adalah sebagai berikut:

Memerdekakan seorang budak mukmin yang tidak cacat.

Jika tidak mampu, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut.

Jika tidak mampu, maka memberikan makan sebanyak 60 orang miskin. Besaran yang diterima setiap orang miskin adalah satu mud.

Dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim karangan Imam Nawawi rahimahullah dijelaskan bahwasannya orang yang berhubungan badan di siang bulan Ramadhan dan tidak mampu membayar kafarat seperti diatas, maka kafaratnya tidak gugur, tetapi wajib baginya membayar sampai dia mampu. Hal ini dapat di-qiyas-kan seperti utang-piutang dan hak-hak lainnya.


 Lebih Bersemangat Pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Lebih Bersemangat Pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan



www.kiminovel.com -- Memang tidak seperti kebanyakan orang modern seperti sekarang ini yang pada akhir bulan Ramadhan justru sibuk memikirkan mudik dan baju lebaran. Nabi Muhammad SAW malah lebih giat lagi dalam melaksanakan ibadah. Bahkan beliau meninggalkan hal yang bersifat keduniawian dengan alasan untuk menggapai malam lailatul qadar.

Terdapat dalam kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani, yaitu hadist nomer 698 sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Ada beberapa nilai yang dapat kita petik dari hadist diatas, diantaranya:

  1. Dalam hadist di atas menjelaskan keutamaan melakukan amal sholih pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Memang pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan tersendiri dari hari lainnya. Ibadah tersebut dapat mencakup dzikir, shalat, dan tadarus Al-Quran.
  2. Terdapat dua alasan mengapa Nabi Muhammad SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu:
    a- Pada 10 hari terakhir tersebutlah penutup bulan Ramadhan yang diberkahi oleh Allah SWT dan setiap amalannya akan dinilai dari akhirnya.
    b- Pada 10 hari terakhir tersebut diharapkan akan mendapat malam lailatul qadar. Saat seseorang lebih giat beribadah di hari-hari tersebut, maka ia lebih muda mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
  3.  Dari hadist tersebut menjelaskan himbauan untuk membangunkan keluarga agar bisa mendorong mereka untuk melaksanakan shalat malam. Terlebih lagi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
  4.  Dari hadist tersebut juga menjelaskan himbauan untuk menasehati keluarga dalam hal kebaikan dan menjauhi dari hal-hal yang tidak terpuji.
  5. Anjuran untuk membangunkan keluarga tidak hanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan tetapi juga pada hari-hari lainnya. Hal itu juga disebutkan keutamaannya dalam hadist yang lain, yaitu:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang di malam hari melakukan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, maka ia memerciki air pada wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang di malam hari melakukan shalat mala, lalu ia membangungkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka istrinya pun memerciki air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308 dan An Nasai no. 1148. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

Dalam kitabnya yang berjudul Lathoiful Ma’arif karya Sufyan Ats Tsauri halaman 331. Beliau mengatakan, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 331).

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita sehingga kita bisa menghidupkan satu bulan penuh bulan Ramadhan pada umumnya dan 10 hari terakhir khususnya dengan shalat malam dan amalan-amalan lainnya.

Beberapa Keringan Allah Pada Bulan Ramadhan

Beberapa Keringan Allah Pada Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci dan agung. Pada bulan tersebut senantiasa kita diperintahkan untuk berpuasa pada siang harinya dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Tetapi apabila kita sedang dalam keadaan tertentu yang disyaratkan, kita tentu bleh tidak melaksanakan puasa. Berikut adalah beberapa kemudahan Allah kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa:
Boleh tidak berpuasa bagi orang sakit.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 185,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”
Boleh tidak berpuasa bagi musafir (orang dalam perjalanan jauh).

Adapun jika merasa berat saat bepergian jauh, diperintahkan untuk tidak berpuasa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hasidt, Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar.” (HR. Bukhari, no. 1946 dan Muslim, no. 1115)

Namun kalau safar tersebut penuh kemudahan misal perjalanan yang hanya sebentar dengan pesawat (misal: Jogja – Jakarta, ditempuh hanya 1 jam perjalanan dengan pesawat), maka baiknya tetap berpuasa karena lebih cepat terlepas dari kewajiban. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

Tetapi jika perjalanan tersebut terdapat kemudahan, misalnya perjalanan hanya memakan waktu sebentar dengan jarak yang jauh dengan kemajuan teknologi. Maka baiknya tetap berpuasa karena lebih cepat terlepas dari kewajiban. Terdapat hadist dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ

“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari, no. 1945 dan Muslim, no. 1122)
Bagi orang yang sudah tua (tua renta) diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib m embayar fidyah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 184:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Al-Mughni, “Orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka dia boleh tidak berpuasa dan diganti dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Karena orang seperti ini disamakan dengan orang yang sudah tua.”


Inilah Alasan Menjauhi Sifat Pelit Di Bulan Ramadhan

Inilah Alasan Menjauhi Sifat Pelit Di Bulan Ramadhan


Semestinya, bulan suci Ramadhan kita sambut dengan penuh semangat untuk senantiasa beribadah tak terkecuali bersedekah. Setiap amal perbuatan yang kita kerjakan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT, jadi sebagai umat Islam hendaknya kita menghindari sifat pelit terutama pada bulan ini

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan di setiap akhir shalat dengan kalimat-kalimat berikut ini,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ ، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ

“Alloohumma inni a’udzu bika minal jubni wal bukhli, wa a’udzu bika min an urodda ila ardzalil ‘umur, wa a’udzu bika min fitnatid-dunyaa, wa a’udzu bika min fitnatil qobri.”

(Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina–yaitu kepikunan–, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur).” (HR. Bukhari, no. 6365)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari, no. 3554; Muslim no. 2307)

Dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif pada halaman 301, Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.”

Berikut ini adalah beberapa Alasan mengapa kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah di Bulan Ramadhan:

1- Setiap amalan yang dikerjakan pada bulan Ramadhan yang juga merupakan waktu yang mulia maka senantia akan dilipatgandakan pahalanya, termasuk bersedekah.

2- Giat untuk bersedekah pada bulan Ramadhan juga berarti membantu mereka yang membutuhkan, orang yang berpuasa, dan orang yang melakukan shalat malam. Dari sedekah yang kita berikan tentu akan membantu mereka agar lebih mudah beramal. Seperti sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan memberi makan buka puasa,



مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, no. 807; Ibnu Majah no. 1746; Ahmad, 5: 192; dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3. Allah juga berderma pada bulan Ramadhan dengan memberi umatnya rahmat dan ampunan-Nya dari api neraka, terlebih di malam-malam lailatul qadar.

4. Salah satu penyebab dimudahkannya masuk surga bagi seseorang adalah menggabungkan antara puasa dan sedekah.

Sahabat ‘Ali meriwayatkan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi, no. 1984; Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).


Fadhilah Puasa di bulan Ramadhan

Fadhilah Puasa di bulan Ramadhan

 




Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

Dalam ayat ini, Allah SWT menyeru kepada orang-orang mukmin. Allah menyeru kepada meraka untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan intim, dengan berniat ikhlas kepada Allah semata. Karena di dalam berpuasa itu terdapat penyucian jiwa, pebersihan dan penjernihan dari semua kotoran dosa dan akhlak yang buruk. Allah menyebut bahwa Allah mewajibkan puasa kepada mereka sebagaimana Allah mewajibkannya kepada orang-orang sebelumnya. Sehingga mereka memiliki teladan dalam hal tersebut. Oleh karenanya, hendaknya mereka sungguh-sungguh dalam melaksanakannya lebih sempurna dari yang telah dilakukan orang-orang sebelumnya.

Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata bahwa kandungan dalam ayat “Sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian” terdapat beberapa nilai:
Pentingnya puasa sebagaimana yang diwajibkan Allah kepada umat Islam sebelum kita. Ini merupakan bukti Allah cinta terhadap umatnya dan ibadah puasa Ramadhan wajib bagi setiap umatnya.
Sebuah isyarat dari Allah bahwa telah disempurnakannya agama bagi umat ini dengan berbagai keutamaan yang sudah ada pada umat-umat sebelumnya.
Dalam ibadah puasa, senantiasa menggembleng dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga ia akan selalu berusaha untuk menjauhi dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Selain hal itu, puasa juga senantiasa dapat meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kita. Karena setiap amalan yang kita perbuat akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Terdapat beberapa fadhilah yang niscaya kita dapatkan selama bulan Ramadhan, semoga dengan senantiasa kita berusaha, kita bisa mendapatkannya. Seraya kira senantiasa berdoa dan berharap kita dapat dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan selanjutnya. Karena bulan inilah sebagai bulan yang agung dan bulan yang penuh maghfiroh serta setiap amal perbuatan baik akan dilipatgandakan pahalanya.
Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan

Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan



Sebagai umat Islam, semestinya harus menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh ampunan serta keistimewaan ini dengan penuh suka cita. Pasalnya, apa pun kita kita kerjakan selama dalam hal kebijakan maka senantiasa Allah SWT akan melipatgandakannya. Semua amalan pada bulan ini haruslah kita laksanakan dengan lapang dada serta ikhlas hati seraya mengharap ridho Allah SWT.

Terdapat beberapa hal yang bisa kita pelajari selama bulan Ramadhan, yaitu:
  1. Belajar agar tidak mengharap pujian dari sesamanya. Terdapat sebuah hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad-Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al-Khudri. Nabi pun bersabda,

    الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

    “Syirik khofi (syirik yang samar) di manaseseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Sungguh Allah tidak akan memperdulikan orang-orang yang berbuat riya‘ (memamerkan amalan). Sebagaimana dijelaskan dalam hadits,

    قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

    “Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim, no. 2985).

    Lebih lanjut, Imam Nawawi rahimahullah menjelaska, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

  2. Senantiasa belajar untuk menyembunyikan amalan kebaikan sebagaimana kita menutupi keburukan kita. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

    “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965)

    Maksud dari kata al-khafi dalam hadits diatas adalah,

    الْخَامِل الْمُنْقَطِع إِلَى الْعِبَادَة وَالِاشْتِغَال بِأُمُورِ نَفْسه

    “Tidak terkenal (tidak masyhur), terasing untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan mengurus dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, 18:84)

    Intinya adalah orang-orang yang menyembunyikan amal kebaikannya termasuk hamba yang dicintai oleh Allah SWT.

  3. Beribadahb bukan karena untuk tujuan dunia. Contohnya ketika kita bersederkah, kita hanya ingin mendapat balasan duniawi (pamor) bukan semata-mata ikhlas karena Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam Al-Quran bahwa merugilah orang yang beramal yang mengharap dunia semata. Allah Ta’alaberfirman,

    مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

    “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20)

    Semoga dari Ramadhan ini senantiasa kita selalu menjadi hamba yang beramal seraya mengharap ridho Allah SWT semata tanpa tercampuri dengan hal duniawi. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap ridho Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Amalan Yang Digandakan Pahalanya Pada Bulan Ramadhan

Amalan Yang Digandakan Pahalanya Pada Bulan Ramadhan


Berkah dan ampunan senantiasa tercurahkan selama bulan Ramadhan yang terdapat banyak keutamaan. Oleh karenanya kita dianjurkan memperbanyak amal ibadah, setidaknya ada empat amalan yang akan dilipatgandakan apabila dikerjakan di bulan Ramadhan, sebagai berikut:
  1.  Puasa adalah ibadah wajib dan utama dikerjakan pada bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW , “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, berpuasa juga mengharuskan kita untuk menjaga diri dari maksiat. Pahala yang menyertai puasa otomatis akan berlipat ganda.
  2.  Tadarus Al-Quran adalah amalan lain yang sayang untuk dilewatkan, selain itu pahalanya juga akan berlipat ganda. Sehingga diibaratkan membaca satu huruf akan mendapat pahala yang berlipat ganda.
    Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).
  3. Salah malam sebagaimana anjuran Rasulullah SAW untuk melakukannya di bulan Ramadhan antara lain shalat tarawih, shalat witir, dan shalat tahajud.
    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah telah menfardhu-kan puasa Ramadhan dan aku telah men-sunnah-kan bagimu shalat di malam harinya. Maka barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dan shalat sunnah di malam harinya kareka iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, keluarlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh ibunya,” (HR. Bukhari dan Muslim).
  4.  Sedekah yang merupakan bagian amal jariyah yang tiada terputus pahalanya. Saat bulan Ramadhan Nabi Muhammad senantiasa menganjurkan kita untuk bersedekah, sebagaimana sabda Nabi, “Barang siapa memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad)
  5. Salah satu manfaat sedekah adalah menghapus dosa. Jika diibaratkan hidup seperti kertas putih, maka dose seperti tinta hitam yang mengotorinya dan sedekah dapat menghapus noda tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Itulah beberapa amalan yang akan dilipatgandakan pahalanya yang apabila dikerjakan selama bulan Ramadhan. Semoga senantiasa kita bisa meningkatkan amalan kita di bulan Ramadhan.

Amalan Nabi Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadha

Amalan Nabi Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadha


Puncak ibadah puasa Ramadhan adalah pada sepuluh hari terakhir. Bukan suatu yang luar biasa jika Rasulullah lebih meningkatkan ibadahnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidatina Aisyah, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, da membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari).

Banyak dari para ulama yang juga menganjurkan kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini tidak lain karena keutamaannya sangat besar. Dalam kitab Fathul Mu’in karya dari Zainuddin Al-Malibari, terdapat tiga amalan yang harus mesti dilakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Pertama adalah meningkatkan bersedekah, mencukupi kebutuhan keluarga, dan berperilaku baik terhadap suadara dan tetangga. Andaikan kita diberi kelebihan dan kecukupan harta, lebih baik kita manfaatkan harta kita untuk bersedekah misalnya menyediakan takjil bagi orang yang bepuasa sekadar segelas air.

Kedua adalah meningkatkan tadarus atau membaca Al-Quran. Sunnah hukumnya membaca Al-Quran dalam waktu apapun dan tempat bagaimapun kecuali pada tempat terlarang seperti toilet dan lain sebagainya.

Dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa lebih baik membaca Al-Quran di akhir malam daripada awal malam bulan Ramadhan dan juga waktu paling utama untuk membaca Al-Quran adalah setelah shalat subuh. Sebagaimana yang dijelaskan Abu Bakar Syatha bahwa lebih utama membaca Al-Quran pada malam hari karena lebih fokus daripada siang hari.

Ketiga adalah lebih memperbanyak i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW yang lebih meningkatkan ibadah salah satunya dengan i’tikaf di masjid di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tiga amalan diatas adalah amalan yang harus kita tingkatkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharap ridha Allah SWT serta berharap mendapatkan malam lailatul qadar. Karena di malam lailatul qadar terdapat sebuah keutamaan bahwa ibadah pada malam ini lebih baik daripada amalan di bulan lain.

Semoga senantiasa kita dapat melaksanakan dan membiasakan ketiga amalan tersebut menjelang akhir Ramadhan ini. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan malam lailatul qadar yang memiliki keutamaan daripada seribu bulan.

 Melihat Perbedaan dengan sikap toleransi dari Sudut Pandang Islam

Melihat Perbedaan dengan sikap toleransi dari Sudut Pandang Islam


Perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan dunia meruakan suatu keniscayaan. Maka dari itu manusia yang di anugrahi kemapuan rasio dan rasa harus mampu menglola keduanya (perebedaan dam keberagaman) dengan baik agar terjadi keseimbangan. Salah satu penyikapan yang sesuai dengan hal tersebut yakni toleransi. Toleransi, Diartikan sebagai bentuk suatu tindakan membiarkan, menghargai, atau memberi ruang kepada perbedaan, bisa dengan bertuk sikap, pendapat, sifat dan lain sebagaiya.

Q.S. Hud ayat 117-118

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ . وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari ayat diatas allah meneginformasikan keunikan manusia yang selalu akan berselisih terhadap sesamanya. kecuali mereka yang di beri rahmat oleh allah yakni bagi mereka yang mampu mengelola perselisihan dari perbedaan yang telah ada ataupun yang akan ada, antara lain dengan besikap toleransi. Keunikan manusia yang akan tumbuh dan berkembang dalam perbedaan sebenarnya telah di isyaratkan pada QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa Allah menciptakan manusia dari satu ayah dan ibu (Adam dan Hawa AS) yang kemudian berkembang biak menjadi bangsa-bangsa, puak-puak dan suku-suku.

Adanya perbedaan-perbedaan diantara mereka dimaksudkan agar manusia saling mengetaui dan mengenal satu sama lain, dari situ lahirlah hubungan sosial yang harmonis, saling mengisi sehingga perbedaan bukan lagi menjadi point permasalahan tapi sebaliknya perbedaan dan keberagaman menjadi pelengkap. Layaknya permainan puzzel yang ukuran betuknya tak pernah sama tapi jika di atur dengan baik akan tersusun rapi dan saling melengkapi.

Dalam proses saling mengenal tidak juah dari apa yang di sebut dengan “dialog”atau proses memberi dan menerima informasi. Dialog bertujuan mencari titik temu dan mengetahui perbedaan demi terjalin kerjasama. Lebih jauh, dengan dialog dapat di temukan jalan untuk menghidari konfil antara manusia itu sendiri. Tentu saja bila dialog itu berdasarkan sikap saling menghargai dan dilakukan sebagaimana tuntunan al-Qur’an yakni dengan cara yang terbaik (QS. An-Nahl ayat 125)

Pencapaian titik temu pada proses dialog juga harus di sertai upaya dari dalam individu, salah satunya dengan mengidari sikap apriori, yakni ego yang mengaggap dirinya paling benar sehingga cenderung sulit menerima kebenaran dari pihak lain. Jika memang pada akhirnya dialog tidak menemukan titik temu, maka sesuai pesan Allah kepada Nabi Muhammad: sampaikanlah bahwa sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: kamu tidak akan ditanyai menyangkut dosa yang telah kami perbuat dan kami tidak akan ditanyai tentang apa yang kamu perbuat (Q.S. Saba’ ayat 25-26).

 Pesan ini memberi maksud janganlah larut dalam sengketa perbedaan yang sulit menemukan titik temu dan berpotensi ke arah negatif. Serahkan semua pada allah untuk memutuskan pada hari kemudiam siapa di antara kita yang benar dan sebagai mahluknya sabiknya memberi ruang dan tanggung jawab masing-masing mengikuti apa yang di anggap benar.

Ada hal yang harus di ingat bahwa tolerasi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan agama. Pada masa awal masa islam pernah di lakukan kompromi antara kaum musyrik dan Nabi bersama umatnya terkait tuntunan kepercayaan. Kaum musyrik menawarkan usul lebih kurangya seperti ini : "Kami menyembah Tuhanmu, hai Muhammad, setahun dan kamu juga menyembah Tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar kamu juga tentu memperoleh keuntungan."
 
Usulan itupun di tolak oleh rasulullah SAW. Karena denga alasan tidak logis adannya penyatuan agama, setiap agama memiliki ajaran pokok dan banyak perician masingi masing yang pastnya berbeda. Tidak mungkin perbedaan itu di gabungkan dalam diri manusia yang tulus terhadap ajaran agamanya, penganut agama haurus yakin betul dengan yang dia yakini dan selama mereka yakin mustahil bagi mereka akan mengabaikan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran agamanya.

 Usul kaum musyrik di atas yang menjadi sebab turunnya Q.S. Al-Kafirun yang, antara lain, menegaskan: lakum dinukum wa liya din, bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku. Ini merupakan pengakuan eksistensi timbal balik secara de facto sehingga masing-masing dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar dan baik tanpa memutlakkan pendapat kepada pihak lain, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan keyakinan masing-masing.

 Di samapikan oleh ulama dan pemikir islam, yang mana memiliki semoyan bahwa “Kita bersatu dalam akidah dan bertoleransi dalam khilafiyah/furu’iyah.”

Keistimewaan Kendali Diri Dalam Perbuatan Sesuai Tuntunan Qur'an

Keistimewaan Kendali Diri Dalam Perbuatan Sesuai Tuntunan Qur'an



QS. surat Ali-Imran ayat 134



الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya :

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

Dari pemaparan ayat di atas Ali-Imran ayat 134, berbicara tentang tanda-tanda orang bertakwa atau orang yang dalam kecintaan allah. Setelah di katakan mereka yang ringan dalam berbagai (berinfak) atau mereka dalam sifat kedermawanan, dan di kemukakan juga langkah-langkah bagi mereka untuk mengendalikan amarah.

Kendali akan amarah bertujuan agar yang bersangkutan dapat berfikir dan mempertimbangkan berapa aspek seperti : Apakah perlakuan itu wajar mengundang amarah? Jika wajar, apakah sasaran amarah yang ingin dituju sudah tepat? Siapa tahu bukan dia! Kalau sudah tepat, maka pertanyaan berikut adalah: Apakah tempat dan waktunya sudah tepat? Kalau sudah tepat, maka pertanyaan berikutnya adalah: sebatas apa amarah ditumpahkan?

Kendali dalam diri ini penting untuk meminimalisir terjadinya keadaan yang melampaui batas seharusnya. Dengan membirikan waktu diri untuk berfikir dan mempertimbangkan, di harpakan rasa amarah yang besar dalam hati melunak sehingga amarah tak tertumpahkan bergitu saja. Perlu di ketahui bahwa ayat diatas tidak melarang marah karena terkadang amarah di perlukan, namun kendali diri akan amarah menjadi relevan bila dampak yang di timbulkan hanya mengakibatkan kerugian serta perngaruh negatif pada manusia.

Kendali diri tak hanya dalam artian menahan nafsu amarah, keadaan diri selanjutnya yang di anjurkan yakni memaafkan. Karena boleh jadi kendati amarah tidak terlampiaskan namun rasa mengerutu masih tersimpan dalam hati. Kondisi ini karena kedali diri hanya mampu menahan amarah tapi belum mampu melaraskan hati, nah disini perlunya memafaakan. “Maaf” dari segi bahasa “ menghapus” , atau dapat di artikan kendali diri dalam menghapus bekas bekas luka di hati. Kendali ini dapat terlaksana bila pihak yang bersangkutan menyadari bahwa memendam gerutu dalam hati hanyalah perbuatan yang sia-sia hanya akan menimbulkan dendam yang berpotensi mengakibatkan pemusuhan.

Langkah ketiga adalah berbuat baik terhadap siapa yang pernah bersalah. Ini mengundang hadirnya teman, dan alangkah indahnya hidup bersama teman

Langkah terkir yankni kendali diri untuk bersikap lapang dada terhadap siapaun meski kepada orang yang pernah bersalah. Sikap ini mengantarkan pribadi mudah dalam mengelola petemanan, seperti yang tertuang pada ayat berikut,

QS. Fushshilat ayat 34

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Artinya :

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan an-tara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.

Ayat ini menginformasikan bertapa besarnya pengaruh beruat baik terhadap semua, meski musuh yang pernah berbuat salah sekalipun dan karena itu pula mengapa orang yang tadinya musuh tiba tiba menjadi teman yang sangat akrab? Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif sampai-sampai, “Setiap perasaan, betapapun agung dan luluhnya, tetap mengandung benih-benih perasaan yang bertolak belakang dengannya. Memang perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal karena akal tidak dapat menggabungkan dua hal yang bertolak belakang sedangkan perasaan bisa. Karena itu, tidak ada cinta tanpa benci.



Pentingnya Bulan Ramadan Bagi Yang Menunaikan

Pentingnya Bulan Ramadan Bagi Yang Menunaikan


Terdapat sebuah hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari Muslim dan sangat populer di kalangan masyarakat saat menghadapi bulan Ramadhan. Hadist tersebut berbunyi demikian, " Ketika masuk bulan suci Ramadhan, maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surge dibuka dan pintu-pintu neraka di tutup."

Tetapi jangan hanya memahami hadist tersebut secara tekstual dan menganggap seakan pintu neraka tertutup rapat dan pintu surga terbuka lebar sehingga kita dapat berperilaku seenaknya. Menurut sebagian ulama, hadist itu sebagai pengkiasan bagi bulan Ramadhan. Makna kontekstual yaitu saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, sudah seharusnya kita lebih giat dalam beramal dan lebih aktif meningkatkan kualitas ketaqwaan untuk memperoleh pintu-pintu surga.

Begitu juga sebaliknya, pada bulan ini kita juga harus lebih giat lagi untuk menghindari dari segala perbuatan dosa. Terlebih seperti masa modern sekarang ini, banyak yang tanpa kita sadari apa yang kita lakukan mengarah pada perbuatan dosa. Apakah itu?

Tentunya kita sudah sangat akrab dengan media sosial. Bahkan tanpa disadari kita hampir setiap saat memeriksa akun media sosial yang kita miliki. Memang banyak hal yang dapat kita lakukan dengan media sosial, seperti memperluas jejaring, melakukan pembelajaran secara online, bahkan mendengarkan ceramah dari para ulama.

Tetapi di lain sisi, media sosial juga bisa memberikan dampak negatif seperti memarkan sesuatu, mengumbar masalah orang lain, bahkan mencaci orang lain di media sosial. Hal-hal seperti itu bisa dengan mudah kita temui di media-media sosial seperti Facebook dan parahnya hal-hal buruk itu disebarluaskan oleh para warganet.

Apakah hal-hal buruk itu kita harapkan di bulan Ramadan yang suci ini dimana surga akan kita peroleh jika kita berusaha untuk menghindarinya. Apakah pintu-pintu neraka ditutup rapat meskipun kita tetap melakukan sesuatu yang tidak baik? Tentu saja tidak.

Sayogyanya, kita juga harus benar-benar sadar dan menjaga diri kita serta berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk di bulan Ramadhan yang suci ini. Dengan begitulah niscaya ridho Allah senantiasa bisa kita dapatkan serta pahala yang berlipat ganda seraya berharap agar kita dapat dipertemukan dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun selanjutnya.
Hindari Kegiatan Berikut Selama Bulan Ramadhan

Hindari Kegiatan Berikut Selama Bulan Ramadhan


Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2/422 nomor 8852 bahwasannya seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Jabir bi Abdillah berkata:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنْ الْكَذِبِ وَالْمَأْثَمِ وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صَوْمِكَ سَوَاءً

“Jika anda berpuasa hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga berpuasa dari dusta dan dosa. Jangan sakiti budak. Hendaknya saat berpuasa anda memiliki sikap tenang berwibawa. Jangan sikapi hari berpuasa dan hari tidak berpuasa dengan sikap yang sama.”

Meskipun pada saat puasa maupun tidak dan saat bulan Ramadhan ataupun tidak, melakukan dosa itu adalah perbuatan terlarang. Hendaknya saat berpuasa kita jauh lebih berhat-hati. Salah satu sikap memuliakan bulan suci Ramadhan adalah memberikan berperilaku lebih terpuji daripada bulan-bulan lainnya.

Perbuatan dosa yang kita lakukan dalam segala kondisi baik saat puasa ataupun itu dapat menghilangkan pahala. Tetapi, dosa yang kita lakukan saat bulan Ramadhan dan dalam keadaan puasa itu akan dilipatgandakan lebih banyak dibanding selain bulan Ramadhan. Pada akhirnya kita hanya akan mendapat lapar dan haus semata.

Ada empat dosa terlihat sepele dan harus kita waspadai saat berpuasa di bulan Ramadhan:

Pertama adalah dosa telinga atau pendengaran. Waspadailah mendengarkan obrolan orang lain yang berisi singgungan bahkan gunjingan, dan sebagainya.

Kedua adalah dosa mata atau penglihatan. Waspadailah melihat tontonan yang terdapat konten negatif dan tidak bermanfaat, dan sebagainya.

Ketiga adalah dosa mulut atau lisan. Hindari berkata bohong atau menipu.

Keempat adalah dosa zalim contohnya menyakiti karyawannya. Bagi orang yang berpuasa semestinya harus selalu bersikap sabar dan tenang tidak perlu adanya emosi serta tidak mengolok-olok dan mengejek.


Semoga kita menjadi umat Islam yang senantiasa selalu beriman dan bertaka kepada Allah SWT. Mari kita jadikan puasa Ramadhan pada tahun ini untuk selalu menjadikan diri lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya seraya berharap semoga dipertemukan dengan bulan Ramadhan setelahnya.

Menelisik Maksud Dari Pahala Puasa Yang Tak Terhingga

Menelisik Maksud Dari Pahala Puasa Yang Tak Terhingga



Sebagai umat Islam, kita tentu sering mendengar bahwa “Pahala puasa pada bulan Ramadhan itu tidak terhingga”. Apakah maksud dari kalimat tersebut? Terdapat sebuah hadist yang menjelaskan tentang pahala puasa pada bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sebagai berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Setiap amal perbuatan mendapatkan kebaikan dan akan dilipatgandakan hingga sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan yang sepadan. Terkecuali kebaikan untuk amalan puasa. Puasa tidak dilipatkan seperti diatas, melainkan akan mendapatkan pahala yang tidak terbatas tanpa ada batasan bilangan.

Mengapa bisa dikatakan seperti itu? Ibnu Rajab Al Hambali radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa, ”Karena orang yang menjalankan puasa berarti menjalankan kesabaran”. Terkait dengan pahala orang yang bersabar, Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 10:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Ada itu ada tiga macam, yaitu: Pertama adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Kedua adalah sabar dalam meninggalkan perkara haram. Ketiga adalah sabar dalam menghadapi semua yang sudah ditakdirkan Allah.

Ketiga macam sabar seperti diatas, semuanya berada dalam amalan puasa. Puasa tentu juga terdapat perintah untuk melakukan ketaatan. Selain itu juga terdapat perintah menjauhi segala sesuatu yang diharamkan. Begitu pun dalam amalan puasa, seseorang tentu senantiasa bersabar dalam menghadapi segala hal yang menyakitkan seperti menahan lapar dan dahaga serta lemahnya kondisi badan. Itulah sebabnya amalan puasa mendapat pahala yang tidak terhitung sebagaimana sabar.

Hikmahnya adalah pahala puasa bulan Ramadhan dan juga puasa secara umum itu tidak terhingga. Karena di dalamnya juga terdapat perintah untuk bersabar, yaitu sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menghadapi segala cobaan.


 Keistimewaan Pada Hari-Hari Bulan Ramadhan

Keistimewaan Pada Hari-Hari Bulan Ramadhan



Bulan Ramadhan adalah salah satu bulan yang sangat istimewa bagi semua umat Islam. Pada bulan inilah seluruh umat Islam diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa, kecuali bagi mereka yang memiliki halangan seperti orang sakit, musafir, ibu hamil dan menyusui. Ganjaran ibadah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan karena merupakan bulan yang sangat mulia.

Terdapat tiga fase di bulan Ramadhan yakni sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, dan sepuluh hari ketiga. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Ramadhan itu awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya adalah kebebasan dari api neraka”. Penjelasan dari hadist tersebut adalah bahwasannya bulan Ramdhan mempunyai banyak kemuliaan dan keutamaan.

1. Keistimewaan pada sepuluh hari pertama
Biasanya sepuluh hari pertama bulan Ramadhan adalah masa yang sulit dimana kita masih proses beradaptasi untuk tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Meski demikian, pada sepuluh hari pertama merupakan hari dimana para umat Islam dengan penuh semangat berbondong-bondong melaksanakan ibadah khusunya ibadah shalat tarawih.

Pada sepuluh hari pertama, Allah memberikan berkah untuk seluruh umatnya dan membuka semua pintu rahmat dan tentunya kita sebagai umat Islam tidak boleh melewatkannya. Sehingga senantiasa kita dapat melaksanakan ibadah untuk bekal kita di kehidupan akhirat. Kita jangan sampai termasuk golongan orang yang lalai dan melewatkan keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Ramadhan . umat islam sebaiknya melakukan amalan yang baik serta selalu menjauhi dan meninggalkan segala larangan-Nya.

2. Keistimewaan pada sepuluh hari kedua
Pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan merupakan ampunan bagi umat Islam yang senantiasa bersungguh-sungguh memohon ampunan dan bertaubat atas segala kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat. Adapun beberapa keistimewaan pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan adalah Jauh dari godaan duniawi, Mendapat kemudahan selama ramadhan, Memiliki iman lebih dalam, Jalan untuk bersyukur, Dimudahkan selama di dunia dan akhirat. Dianjurkan bagi umat Islam untuk melaksanakan puasa secara utuh dan rajin selama bulan Ramadhan agar mendapat fadhilah dan pahala yang sempurna.

3. Keistimewaan pada sepuluh hari terakhir
Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah masa-masa yang sangat banyak godaannya. Hal ini dikarenakan sebagian umat Islam difokuskan dengan bermacam-macam budaya perayaan Hari Raya Idul Fitri seperti membeli pakaian baru, menyiapkan kebutuhan menjelang hari raya, dan kegiatan-kegiatan lain yang menganggu khusyu’nya pelaksanaan ibadah.

Padahal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan yang lebih banyak dibanding hari-hari lainnya. Pada sepuluh hari terakhir merupakan punca dari amalan yang telah kita lakukan selama satu bulan penuh bulan Ramadhan. Beberapa keutamaan dan keistimewaan di masa ini adalah Allah swt melapangkan kubur bagi makhluk-Nya, menyelamatkan dari keganasan malaikat Munkar dan Nakir,pahala yang kita lakukan sama seperti memberi makan setiap anak yatim. Sungguh keutamaan yang luar biasa indah, dan masih banyak keistimewaan lainnya.

Hal-hal tersebut adalah sebagian dari sekian banyaknya keutamaan dan juga keistimewaan pada bulan Ramadhan. Sepatutnya kita sebagai umat Islam harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, karena hal-hal tersebut tidak akan kita jumpai pada bulan-bulan lainnya. Senantiasa kita berharap semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan setelahnya.

5 Amalan Dengan Pahala Besar Selain Puasa Di Bulan Ramadhan

5 Amalan Dengan Pahala Besar Selain Puasa Di Bulan Ramadhan



Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia, sehingga umat Islam berbondong-bondong melakukan amal kebaikan. Selain itu, umat Islam juga berlomba-lomba untuk mendapatkan keberkahan dalam setiap amalan yang dilakukannya. Pada bulan Ramadhan yang agung ini segala perbuatan baik akan dilipatgandakan.

Anda bisa melakukan bermacam-macam amalan yang dapat menambah pahala di bulan suci Ramadhan. Berikut ini adalah amalan yang dapat anda kerjakan selama satu bulan Ramadhan.

1. Memperbanyak Sedekah atau Beramal

Sebagai umat Islam, kita harus memanfaatkan bulan yang penuh dengan keberkahan ini dengan memperbanyak sedekah dan amal. Jangan sekali-kali anda menunda bersedekah jika anda mempunyai kesempatan di setiap waktu. Sisihkanlah meskipun sedikit pengeluaran anda untuk berbagi kepada mereka yang sangat membutuhkan.

Sesungguhnya Allah SWT sangat cinta kepada hambanya yang suka menolong kepada sesamanya. Tidak harus secara terbuka, anda bisa memberikan sedekah secara dam-diam yang mungkin akan mendatangkan kebaikan lainnya.
2. Melaksanakan Amalan Sunah

Senantiasa berusalah untuk melaksanakan amalan sunah seperti makan sahur walaupun hanya minum susu atau makan buah. Hal itu dikarenakan ada berkah tersendiri di setiap makanan dan minuman saat kita sahur. Selain sahur, anda juga harus mencoba melakukan amalan-amalan sunah lainnya.

Contoh lain dari amalan sunah itu adalah shalat dhuha, shalat tahajud, dan amalan lainnya. Melaksanakan amalan tersebut, niscaya anda akan mendapat berbagai kebaikan dan ketenangan hati. Tentu hanya anda sendiri yang dapat merasakannya.
3. Mengharap Ampunan

Salah sarana tersbesar bagi umat Islam untuk lebih menguatkan kadar keimanan adalah pada bulan suci Ramadhan. Pada bulan inilah waktu yang tepat untuk umat Islam mengharap ampunan dari Allah SWT atas segala dosa.

Selain mengaharap ampunan dari Allah SWT, bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk saling bermaaf-maafan kepada keluarga kita, saudara, dan teman-teman kita.
4. Mempererbanyak Drzikir dan Doa

Dengan membaca kalimat SubhanAllahi wa bihamdihi (Maha suci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya) sebanyak seratus kali dalam satu hari, niscaya akan menghapus segala dosa yang telah kita perbuat. Bahkan dapat menghapus dosa kita meskipun seluas lautan.

Mengucapkan seratus kali dalam sehari pasti akan berat. Tetapi, agar anda lebih mudah dalam menjalankannya maka anda bisa membaginya menjadi dua puluh bagian. Jika itu dirasa masih berat, anda bisa memecahnya lagi menjadi menjadi sepuluh kali sebelum dan sepuluh kali sesudah anda melaksanakan shalat wajib.
5. Mengkhatamkan Kitab Suci Al-Quran

Mungkin akan terasa sangat sulit untuk mengkhatamkan Al-Quran dengan jangka waktu hanya sebulan saja. Tetapi anda juga dapat memecahnya supaya lebih mudah. Maka dengan membaca 4-5 halam sesudah anda melaksanakan shalat wajib. Tentu pada akhir bulan Ramadhan anda sudah bisa mengkhatamkan Al-Quran.

Anda perlu catat dan ingat bahwa semua amalan diatas harus dilakukan dengan konsisten disetiap harinya. Dengan begitu, anda bisa senantiasa terbiasa melakukan amalan-amalan tersebut di bulan-bulan selanjutnya setelah Ramadhan.

Hikmah Bulan Ramadhan

Hikmah Bulan Ramadhan





Patut untuk kita berbahagia di bulan Ramadhan yang mulia ini. Karena disamping pahala kita dilipatgandakan, segala dosa kita pun niscaya akan diampuni oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang artinya: "Barang siapa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan semata-mata karena Allah dan mengharap ganjaran dari pada-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu."

Sejatinya bulan Ramadhan adalah sebagai titik tolak kita kembali kepada fitrah atau kesucian. Bahwasannya dari bulan inilah kita membangun komitmen ketaqwaan bukan hanya untuk satu tahun kedepan, tetapi juga membangun komitmen ketaqwaan seumur hidup layaknya komitmen ketaqwaan di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan umatnya: "Qul aamantu billahi tsummastaqim.” Atinya: “Katakanlah aku beriman kepada Allah dan beristiqamahlah (konsistenlah).”

Setidaknya, dari bulan Ramadhan inilah kita dapat mengambil empat pelajaran penting dan harus kita pertahankan serta dilestarikan dalam kehidupan keseharian. Sehingga senantiasa kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang dapat menjaga keluarga dan diri sendiri khusunya supaya kelak lahir masyarakat yang tertib.

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah “Menjauhi harta yang haram”. Karena selama puasa kita harus menghindari segala yang haram. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 100 yang artinya: “Katakanlah, tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

Penjelasan dari ayat tersebut adalah harta yang haram itu ibarat khobits atau kotoran menjijikkan. Jadi, seandinya Allah memperlihatkan harta haram itu nisacaya tidak akan ada manusia yang mau mendapatkannya. Karena jelas khobits itu berbeda dengan thayyib atau halal sekalipun sangat sedikit jumlahnya.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil adalah “Mengendalikan diri dari perbuatan maksiat”. Selama Ramadhan kita harus bisa menjauhkan dan mengendalikan diri dari perbuatan maksiat. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya nafsu melakukan maksiat itu sangat lemah dan seharusnya manusialah yang mengendalikan hawa nafsunya.

Pada surat An-Nazi’at ayat 40-41, Allah SWT menegaskan bahwa manusia bisa mengendalikan nafsunya hanya dengan takut kepada-Nya. Ayat tersebut kurang lebih berarti seperti demikian: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)."

Pelajaran ketiga yang dapat kita ambil adalah “Menundukkan syetan”. Hal itu dapat kita buktikan selama Ramadhan bahwa syetan menjadi lemah dan tidak berdaya. Sebagai buktinya adalah kita bisa sangat mudah menjumpai tempat-tempat ibadah terdengar gema suara tadarus Al-Quran.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 76 yang artinya: ““Sesungguhnya tipu daya setan itu sungguh lemah.” Maka tidaklah pantas jika kita mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat jika kita tetap mengikut bisikan-bisikan syetan.

Pelajaran ketiga yang dapat kita ambil adalah “Meninggalkan segala dosa”. Bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh perjuangan untuk menghadapi dan menjauhi segala macam dosa. Bahkan senantiasa kita berusaha menjauhi sekecil apapun perbuatan yang tidak berfaedah.

Bulan Ramadhan sudah menjadi contoh hidup yang hakiki dan mendidik kita menjadi seorang hamba yang sejati. Kita harus berusaha dengan maksimal disetiap detik untu beribadah kepada Allah SWT dengan dzikir, doa, dan segala amalan kebaikan lainnya. Itulah mengapa Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai tangga menuju taqwa.

Lebih Dermawanlah Di Bulan Ramadhan, Berikut Alasannya

Lebih Dermawanlah Di Bulan Ramadhan, Berikut Alasannya


Mukhtasar dalam Kitab al-Umm yang dikarang oleh al-Muzani pada halaman 89, menyebutkan bahwa Imam Asy-Syafi’i mengatakan:


وَأُحِبُّ لِلرَّجُلِ الزِّيَادَةَ بِالْجُوْدِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ اِقْتِدَاءً بِهِ وَلِحَاجَةِ النَّاسِ فِيْهِ إِلَى مَصَالِحِهِمْ وَلِتَشَاغُلِ كَثِيْرٍ مِنْهُمْ بِالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ عَنْ مَكَاسِبِهِمْ

“Kusukai agar seorang muslim itu makin dermawan di bulan Ramadhan dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang memerlukan bantuan di bulan Ramadhan untuk memenuhi kebutuhannya dan banyak orang sibuk puasa dan sholat sehingga harus libur kerja.”

Sebagai umat Islam, semestinya kita menjadi pribadi yang ringan tangan atau dermawan seperti yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ada tiga alasan sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy-Syafi’i alasan kenapa orang muslim dianjurkan untuk gemar berderma terutama pada bulan Ramadhan. Berikut penjelasannya:

Pertama adalah meneladani Baginda Rasulullah SAW yang lebih giat berderma kepada semua orang tanpa terkecuali pada bulan suci Ramadhan yang diibaratkan sampai melibihi angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Kedua adalah membantu orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan baik materi ataupun non materi.

Ketiga adalah beberapa orang terpaksa harus libur bekerja untuk berpuasa dikarenakan tuntutan kerja yang sangat keras. Sehingga orang-orang seperti itulah yang sangat butuh untuk kita bantu.

Jikalau menambah sikap dermawan kepada orang lain yang bukan keluarga saja sangat dianjurkan, apalagi bersedekah untuk anak isteri. Selayaknya kita juga lebih dermawan kepada keluarga kita sendiri meskipun sedikit agar keluarga kita lebh bersemangat dalam menjalankan ibadah puasa.