Hikmah Bulan Ramadhan

Hikmah Bulan Ramadhan





Patut untuk kita berbahagia di bulan Ramadhan yang mulia ini. Karena disamping pahala kita dilipatgandakan, segala dosa kita pun niscaya akan diampuni oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang artinya: "Barang siapa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan semata-mata karena Allah dan mengharap ganjaran dari pada-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu."

Sejatinya bulan Ramadhan adalah sebagai titik tolak kita kembali kepada fitrah atau kesucian. Bahwasannya dari bulan inilah kita membangun komitmen ketaqwaan bukan hanya untuk satu tahun kedepan, tetapi juga membangun komitmen ketaqwaan seumur hidup layaknya komitmen ketaqwaan di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan umatnya: "Qul aamantu billahi tsummastaqim.” Atinya: “Katakanlah aku beriman kepada Allah dan beristiqamahlah (konsistenlah).”

Setidaknya, dari bulan Ramadhan inilah kita dapat mengambil empat pelajaran penting dan harus kita pertahankan serta dilestarikan dalam kehidupan keseharian. Sehingga senantiasa kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang dapat menjaga keluarga dan diri sendiri khusunya supaya kelak lahir masyarakat yang tertib.

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah “Menjauhi harta yang haram”. Karena selama puasa kita harus menghindari segala yang haram. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 100 yang artinya: “Katakanlah, tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

Penjelasan dari ayat tersebut adalah harta yang haram itu ibarat khobits atau kotoran menjijikkan. Jadi, seandinya Allah memperlihatkan harta haram itu nisacaya tidak akan ada manusia yang mau mendapatkannya. Karena jelas khobits itu berbeda dengan thayyib atau halal sekalipun sangat sedikit jumlahnya.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil adalah “Mengendalikan diri dari perbuatan maksiat”. Selama Ramadhan kita harus bisa menjauhkan dan mengendalikan diri dari perbuatan maksiat. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya nafsu melakukan maksiat itu sangat lemah dan seharusnya manusialah yang mengendalikan hawa nafsunya.

Pada surat An-Nazi’at ayat 40-41, Allah SWT menegaskan bahwa manusia bisa mengendalikan nafsunya hanya dengan takut kepada-Nya. Ayat tersebut kurang lebih berarti seperti demikian: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)."

Pelajaran ketiga yang dapat kita ambil adalah “Menundukkan syetan”. Hal itu dapat kita buktikan selama Ramadhan bahwa syetan menjadi lemah dan tidak berdaya. Sebagai buktinya adalah kita bisa sangat mudah menjumpai tempat-tempat ibadah terdengar gema suara tadarus Al-Quran.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 76 yang artinya: ““Sesungguhnya tipu daya setan itu sungguh lemah.” Maka tidaklah pantas jika kita mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat jika kita tetap mengikut bisikan-bisikan syetan.

Pelajaran ketiga yang dapat kita ambil adalah “Meninggalkan segala dosa”. Bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh perjuangan untuk menghadapi dan menjauhi segala macam dosa. Bahkan senantiasa kita berusaha menjauhi sekecil apapun perbuatan yang tidak berfaedah.

Bulan Ramadhan sudah menjadi contoh hidup yang hakiki dan mendidik kita menjadi seorang hamba yang sejati. Kita harus berusaha dengan maksimal disetiap detik untu beribadah kepada Allah SWT dengan dzikir, doa, dan segala amalan kebaikan lainnya. Itulah mengapa Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai tangga menuju taqwa.