Keistimewaan Kendali Diri Dalam Perbuatan Sesuai Tuntunan Qur'an

Keistimewaan Kendali Diri Dalam Perbuatan Sesuai Tuntunan Qur'an



QS. surat Ali-Imran ayat 134



الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya :

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

Dari pemaparan ayat di atas Ali-Imran ayat 134, berbicara tentang tanda-tanda orang bertakwa atau orang yang dalam kecintaan allah. Setelah di katakan mereka yang ringan dalam berbagai (berinfak) atau mereka dalam sifat kedermawanan, dan di kemukakan juga langkah-langkah bagi mereka untuk mengendalikan amarah.

Kendali akan amarah bertujuan agar yang bersangkutan dapat berfikir dan mempertimbangkan berapa aspek seperti : Apakah perlakuan itu wajar mengundang amarah? Jika wajar, apakah sasaran amarah yang ingin dituju sudah tepat? Siapa tahu bukan dia! Kalau sudah tepat, maka pertanyaan berikut adalah: Apakah tempat dan waktunya sudah tepat? Kalau sudah tepat, maka pertanyaan berikutnya adalah: sebatas apa amarah ditumpahkan?

Kendali dalam diri ini penting untuk meminimalisir terjadinya keadaan yang melampaui batas seharusnya. Dengan membirikan waktu diri untuk berfikir dan mempertimbangkan, di harpakan rasa amarah yang besar dalam hati melunak sehingga amarah tak tertumpahkan bergitu saja. Perlu di ketahui bahwa ayat diatas tidak melarang marah karena terkadang amarah di perlukan, namun kendali diri akan amarah menjadi relevan bila dampak yang di timbulkan hanya mengakibatkan kerugian serta perngaruh negatif pada manusia.

Kendali diri tak hanya dalam artian menahan nafsu amarah, keadaan diri selanjutnya yang di anjurkan yakni memaafkan. Karena boleh jadi kendati amarah tidak terlampiaskan namun rasa mengerutu masih tersimpan dalam hati. Kondisi ini karena kedali diri hanya mampu menahan amarah tapi belum mampu melaraskan hati, nah disini perlunya memafaakan. “Maaf” dari segi bahasa “ menghapus” , atau dapat di artikan kendali diri dalam menghapus bekas bekas luka di hati. Kendali ini dapat terlaksana bila pihak yang bersangkutan menyadari bahwa memendam gerutu dalam hati hanyalah perbuatan yang sia-sia hanya akan menimbulkan dendam yang berpotensi mengakibatkan pemusuhan.

Langkah ketiga adalah berbuat baik terhadap siapa yang pernah bersalah. Ini mengundang hadirnya teman, dan alangkah indahnya hidup bersama teman

Langkah terkir yankni kendali diri untuk bersikap lapang dada terhadap siapaun meski kepada orang yang pernah bersalah. Sikap ini mengantarkan pribadi mudah dalam mengelola petemanan, seperti yang tertuang pada ayat berikut,

QS. Fushshilat ayat 34

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Artinya :

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan an-tara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.

Ayat ini menginformasikan bertapa besarnya pengaruh beruat baik terhadap semua, meski musuh yang pernah berbuat salah sekalipun dan karena itu pula mengapa orang yang tadinya musuh tiba tiba menjadi teman yang sangat akrab? Jiwa manusia sangat ajaib. Tidak jarang menyangkut satu objek pun hatinya bersikap kontradiktif sampai-sampai, “Setiap perasaan, betapapun agung dan luluhnya, tetap mengandung benih-benih perasaan yang bertolak belakang dengannya. Memang perasaan mempunyai logika yang berbeda dengan logika akal karena akal tidak dapat menggabungkan dua hal yang bertolak belakang sedangkan perasaan bisa. Karena itu, tidak ada cinta tanpa benci.