Melihat Perbedaan dengan sikap toleransi dari Sudut Pandang Islam

Melihat Perbedaan dengan sikap toleransi dari Sudut Pandang Islam


Perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan dunia meruakan suatu keniscayaan. Maka dari itu manusia yang di anugrahi kemapuan rasio dan rasa harus mampu menglola keduanya (perebedaan dam keberagaman) dengan baik agar terjadi keseimbangan. Salah satu penyikapan yang sesuai dengan hal tersebut yakni toleransi. Toleransi, Diartikan sebagai bentuk suatu tindakan membiarkan, menghargai, atau memberi ruang kepada perbedaan, bisa dengan bertuk sikap, pendapat, sifat dan lain sebagaiya.

Q.S. Hud ayat 117-118

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ . وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari ayat diatas allah meneginformasikan keunikan manusia yang selalu akan berselisih terhadap sesamanya. kecuali mereka yang di beri rahmat oleh allah yakni bagi mereka yang mampu mengelola perselisihan dari perbedaan yang telah ada ataupun yang akan ada, antara lain dengan besikap toleransi. Keunikan manusia yang akan tumbuh dan berkembang dalam perbedaan sebenarnya telah di isyaratkan pada QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa Allah menciptakan manusia dari satu ayah dan ibu (Adam dan Hawa AS) yang kemudian berkembang biak menjadi bangsa-bangsa, puak-puak dan suku-suku.

Adanya perbedaan-perbedaan diantara mereka dimaksudkan agar manusia saling mengetaui dan mengenal satu sama lain, dari situ lahirlah hubungan sosial yang harmonis, saling mengisi sehingga perbedaan bukan lagi menjadi point permasalahan tapi sebaliknya perbedaan dan keberagaman menjadi pelengkap. Layaknya permainan puzzel yang ukuran betuknya tak pernah sama tapi jika di atur dengan baik akan tersusun rapi dan saling melengkapi.

Dalam proses saling mengenal tidak juah dari apa yang di sebut dengan “dialog”atau proses memberi dan menerima informasi. Dialog bertujuan mencari titik temu dan mengetahui perbedaan demi terjalin kerjasama. Lebih jauh, dengan dialog dapat di temukan jalan untuk menghidari konfil antara manusia itu sendiri. Tentu saja bila dialog itu berdasarkan sikap saling menghargai dan dilakukan sebagaimana tuntunan al-Qur’an yakni dengan cara yang terbaik (QS. An-Nahl ayat 125)

Pencapaian titik temu pada proses dialog juga harus di sertai upaya dari dalam individu, salah satunya dengan mengidari sikap apriori, yakni ego yang mengaggap dirinya paling benar sehingga cenderung sulit menerima kebenaran dari pihak lain. Jika memang pada akhirnya dialog tidak menemukan titik temu, maka sesuai pesan Allah kepada Nabi Muhammad: sampaikanlah bahwa sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: kamu tidak akan ditanyai menyangkut dosa yang telah kami perbuat dan kami tidak akan ditanyai tentang apa yang kamu perbuat (Q.S. Saba’ ayat 25-26).

 Pesan ini memberi maksud janganlah larut dalam sengketa perbedaan yang sulit menemukan titik temu dan berpotensi ke arah negatif. Serahkan semua pada allah untuk memutuskan pada hari kemudiam siapa di antara kita yang benar dan sebagai mahluknya sabiknya memberi ruang dan tanggung jawab masing-masing mengikuti apa yang di anggap benar.

Ada hal yang harus di ingat bahwa tolerasi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan agama. Pada masa awal masa islam pernah di lakukan kompromi antara kaum musyrik dan Nabi bersama umatnya terkait tuntunan kepercayaan. Kaum musyrik menawarkan usul lebih kurangya seperti ini : "Kami menyembah Tuhanmu, hai Muhammad, setahun dan kamu juga menyembah Tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar kamu juga tentu memperoleh keuntungan."
 
Usulan itupun di tolak oleh rasulullah SAW. Karena denga alasan tidak logis adannya penyatuan agama, setiap agama memiliki ajaran pokok dan banyak perician masingi masing yang pastnya berbeda. Tidak mungkin perbedaan itu di gabungkan dalam diri manusia yang tulus terhadap ajaran agamanya, penganut agama haurus yakin betul dengan yang dia yakini dan selama mereka yakin mustahil bagi mereka akan mengabaikan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran agamanya.

 Usul kaum musyrik di atas yang menjadi sebab turunnya Q.S. Al-Kafirun yang, antara lain, menegaskan: lakum dinukum wa liya din, bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku. Ini merupakan pengakuan eksistensi timbal balik secara de facto sehingga masing-masing dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar dan baik tanpa memutlakkan pendapat kepada pihak lain, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan keyakinan masing-masing.

 Di samapikan oleh ulama dan pemikir islam, yang mana memiliki semoyan bahwa “Kita bersatu dalam akidah dan bertoleransi dalam khilafiyah/furu’iyah.”