Ramadhan Kedua bersama Covid

Ramadhan Kedua bersama Covid

Ramadhan tahun lalu musibah pandemi covid-19 menerjang indonesia setelah kasus pertama ditemukan pada awal maret. Saat itu semua warga berbondong-bondong membeli semua bahan pokok untuk beberapa bulan ke depan karena pemerintah pusat memutuskan untuk melakukan pembatasan sosial atau lock down dan memutuskan agar warga harus tetap di rumah. Sebuah negara seketika terasa mencekam, sepi layaknya sebuah negara tak berpenghuni.


Ramadhan tahun ini masih dibayang-bayangi pandemi covid-19. Masih dalam ketakutan yang sama, ketakutan akan terjangkit covid-19. Tempat-tempat yang dipredeksi akan mengalami kerumuman masih diberlakukan protokol kesehatan. Kegiatan 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker) selalu digaungkan setiap saat. Kebijakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam mengurangi kegiatan berkerumun warganya masih tetap berjalan.


Hingga pada saatnya masyarakat tiba pada titik jenuh terhadap berita, kebijakan permerintah, dan semua hal seputar covid-19. Warga ingin semuanya kembali normal sehingga pemerintah mencanangkan istilah baru yaitu “new normal” atau kebiasaam baru. Kebiasaan/semua aktivitas warga diperbolehkan dengan mematuhi protokol kesehatan. Warga kembali malkukan semua kegiatan yang pernah dilakukan pada ramadhan sebelumnya. Salah satunya dengan berjualan takjil.


Terlihat dari ramadhan tahun ini warga pada tingkat RT mulai menjual takjil di pinggir jalan. Lokasi seperti jalan utama, area kampus, pusat perbelanjaan yang dulunya dipakai untuk berjualan selama ramadhan mulai ramai kembali dengan memberlakukan protokol kesehatan. Alun-alun kota ramai lagi dengan pedagang berjualan di pinggi jalan. Warga terlihat menikmati suasana menunggu waktu berbuka atau ngabuburit sore hari dengan tetap memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.


Harpan pada bulan ramadhan tahun ini semoga warga lebih bisa mengkoreksi diri. Berharaplah hanya pada Allah bukan pada vaksin. Vaksin hanya alat bantu untuk kita bukan sebuah solusi yang absolut tetapi diri kitalah yang menjadi patokan kesuksesan dalam menghadapi wabah pandemi ini.