Perbanyak Doa Ini, Apabila Ingin Bertemu Malam Lailatul Qadar

Perbanyak Doa Ini, Apabila Ingin Bertemu Malam Lailatul Qadar


Bulan Ramadhan memang suatu bulan yang sangat berbeda sama sekali dengan bulan-bulan lainnya. Kita sebagai umat Islam tentu sangat bahagia menyambutnya, pasalnya karena bulan ini sangat penuh dengan berkah dan keutamaan. Selain itu, ada suatu malam yang sangat mulia daripada malam yang lain di bulan tersebut, malam tersebut adalah malam lailatul qadar.

Malam lailatul qadar tidak pernah disebutkan seacara pasti kapan hadirnya. Tetapi terdapat beberapa tanda yang menandakan akan hadirnya malam tersebut. Sehingga kehadirannya sangat ditunggu oleh semua umat Islam. Salah satu keutamaan pada malam tersebut adalah lebih baik daripada seribu malam dan akan dilipatgandakan pahalanya.

Sebagai umat Islam, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah setiap saat terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan mengharap bertemu malam lailatul qadar. Hal ini dikarenakan tidak ada yang mengetahui kapan datangnya malam lailatul qadar. Sebagaimana Rasulullah yang senantiasa memperbanyak amal ibadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah. Rasulullah bersabda,

Aisyah pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, andaikan aku mengetahui lailatul qadar, apa yang bagus aku baca?’ Rasulullah menjawab, ‘Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku).’
. (HR: al-Tirmidzi, al-Nasai, Ibnu Majah)

Dari hadist tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bawha kita dianjurkan untuk membaca doa berikut sebanyak-banyaknya:

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’

Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku

Karena kita tidak mengetahui sama sekali kapan waktu datangnya malam lailatul qadar secara pasti, maka doa tersebut tentu boleh diamalkan dan dibaca setiap hari selama bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Semoga senantiasa dengan mengharap ridha dan rahmat Allah SWT, kita akan mendapatkan pelajaran dari satu bulan penuh bulan suci Ramadhan. Dan semoga dari Ramadhan tahun ini kita dapat meningkatkan pribadi kita menjadi hamba yang senantiasa mengabdi kepada Allah SWT.

Memanfaatkan Harta Agar Berkah Di Akhir Ramadhan

Memanfaatkan Harta Agar Berkah Di Akhir Ramadhan

Sebagai umat Islam, semestinya harus menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh ampunan serta keistimewaan ini dengan penuh suka cita. Pasalnya, apa pun kita kita kerjakan selama dalam hal kebijakan maka senantiasa Allah SWT akan melipatgandakannya, tak terkecuali dengan bersedekah atau memanfaatkan harta agar berkah kepada kita.

Kita tentu sudah sering mengenal tentang sedekah, zakat, dan nafkah. Persemaan yang sangat bisa kita temukan adala bahwa hal tersebut sama-sama menggunakan harta atau materi sebagai penunjangnya. Maka dari itu, setiap harta yang kita miliki haruslah kita gunakan sebaik mungkin, terlebih dalam bulan Ramadhan ini. Sebagian dari ulama menjelaskan bahwasannya harta yang kita keluarkan dibagi menjadi tiga kebaikan, yaitu:

1. Harta yang kita keluarkan untuk kebutuhan pribadi dan keluarga. Bentuk pengeluaran yang sepert itu lebih utama daripada bentuk pengeluaran harta lainnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari).

2. Kewajiban menunaikan zakat dan hak Allah SWT. Menurut beberapa ulama menyatakan bahwasannya barang siapa yang membayar zakat maka dia sudah lepas dari sifat pelit.

3. Sedekah tathowwu’ atau sedekah sunnah misalnya membeari nafkah kepada kerabat jauh ataupun teman guna menyambung rasa kekerabatan dan keharmonisan sosial, termasuk juga memberi makan dan minum kepada orang-orang yang kelaparan.

Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarh Bukhari menjelaskan bahwasannya, “Barangsiapa yang menyalurkan harta untuk tiga jalan di atas, maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).”

Semoga kita senantiasa selalu ikhlas dalam memberi nafkah dan sedekah baik yang wajib maupun sunnah. Karena dengan amalan itulah kita terhindar dari sifat pelit yang sangat dibenci oleh Nabi Muhammad SAW dan juga Allah SWT. Terlebh lagi saat ini kita masih bisa merasakan serta menikmati bulan suci Ramadhan dan jangan pernah menyia-nyiakannya salah satunya dengan memperbanyak sedekah.

Konsekuensi Hubungan Badan Di Siang Bulan Ramadhan Menurut Abu Syuja

Konsekuensi Hubungan Badan Di Siang Bulan Ramadhan Menurut Abu Syuja


Abu Syuja’ rahimahullah berkata,

وَمَنْ وَطِئَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَامِدًا فِي الفَرْجِ فَعَلَيْهِ القَضَاءُ وَالكَفَّارَةُ وَهِيَ : عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا لِكُلِّ مِسْكِيْنٍ مُدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan hubungan seks di siang hari Ramadhan secara sengaja di kemaluan, maka ia punya kewajiban menunaikan qadha’ dan kafarat. Bentuk kafaratnya adalah memerdekakan 1 orang budak beriman. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin yaitu setiap satu orang miskin mendapatkan 1 mud.”

Di dalam kitab kitab Fath Al-Qarib dijelaskan bahwasannya, “Orang yang terkena hukuman di sini adalah mukalaf (baligh dan berakal) yang berniat berpuasa sejak malam hari. Ia terkena dosa karena melakukan hubungan seks di saat puasa.”

Dalam kitab lain yang berjudul Kifayah Al-Akhyar karangan Muhammad Al-Hishni dijelaskan bahwa, “Siapa yang merusak puasa Ramadhannya dengan jimak (hubungan seks), maka dicatat baginya dosa.”

Sedangkan pendapat yang dianut dalam madzab Imam Syafi’i adalah barang siapa yang melakukan hubungan badan (seks) dalam keadaan lupa, maka tidaklah batal puasanya.

Apabila seseorang berhubungan badan pada siang hari bulan Ramadhan, maka wajib bagi orang tersebut membayar kafarat (denda). Hukum yang diberikan dalam hal ini tentu berbeda dengan hukum orang yang makan dan minum di siang Ramadhan, dan tidak dikenakan kafarat.

Dalam kitab Kifayah Al-Akhyar, dijelaskan bahwasannya bagi orang yang dikecualikan untuk berpuasa atau mendapat keringanan. Maka tidaklah dosa dan tidaklah mendapat kewajiban membayar kafarat apabila ia berniat mengambil keringanan tersebut dan melakukan hubungan badan di siang hari bulan Ramadhan.

Menurut jumhur ulama, bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan yang melakukan jimak baik tanpa disengaja ataupun tidak maka puasanya batal, wajib qadha puasa, dan membayar kafarat. Terlepas dari keluarnya mani atau tidak. Demikian dengan wanita yang berhubungan badan dengan pasangannya baik dipaksa atau tidak maka puasanya batal. Tidak ada perdebatan ulama terkait hal ini. Namun yang menjadikan perbedaan adalah apakah laki-laki dan perempuan sama-sama dikenai kafarat.

Ktiteria kafarat yang harus dibayarkan adalah sebagai berikut:

Memerdekakan seorang budak mukmin yang tidak cacat.

Jika tidak mampu, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut.

Jika tidak mampu, maka memberikan makan sebanyak 60 orang miskin. Besaran yang diterima setiap orang miskin adalah satu mud.

Dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim karangan Imam Nawawi rahimahullah dijelaskan bahwasannya orang yang berhubungan badan di siang bulan Ramadhan dan tidak mampu membayar kafarat seperti diatas, maka kafaratnya tidak gugur, tetapi wajib baginya membayar sampai dia mampu. Hal ini dapat di-qiyas-kan seperti utang-piutang dan hak-hak lainnya.


 Lebih Bersemangat Pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Lebih Bersemangat Pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan



www.kiminovel.com -- Memang tidak seperti kebanyakan orang modern seperti sekarang ini yang pada akhir bulan Ramadhan justru sibuk memikirkan mudik dan baju lebaran. Nabi Muhammad SAW malah lebih giat lagi dalam melaksanakan ibadah. Bahkan beliau meninggalkan hal yang bersifat keduniawian dengan alasan untuk menggapai malam lailatul qadar.

Terdapat dalam kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani, yaitu hadist nomer 698 sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Ada beberapa nilai yang dapat kita petik dari hadist diatas, diantaranya:

  1. Dalam hadist di atas menjelaskan keutamaan melakukan amal sholih pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Memang pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan tersendiri dari hari lainnya. Ibadah tersebut dapat mencakup dzikir, shalat, dan tadarus Al-Quran.
  2. Terdapat dua alasan mengapa Nabi Muhammad SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu:
    a- Pada 10 hari terakhir tersebutlah penutup bulan Ramadhan yang diberkahi oleh Allah SWT dan setiap amalannya akan dinilai dari akhirnya.
    b- Pada 10 hari terakhir tersebut diharapkan akan mendapat malam lailatul qadar. Saat seseorang lebih giat beribadah di hari-hari tersebut, maka ia lebih muda mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
  3.  Dari hadist tersebut menjelaskan himbauan untuk membangunkan keluarga agar bisa mendorong mereka untuk melaksanakan shalat malam. Terlebih lagi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
  4.  Dari hadist tersebut juga menjelaskan himbauan untuk menasehati keluarga dalam hal kebaikan dan menjauhi dari hal-hal yang tidak terpuji.
  5. Anjuran untuk membangunkan keluarga tidak hanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan tetapi juga pada hari-hari lainnya. Hal itu juga disebutkan keutamaannya dalam hadist yang lain, yaitu:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang di malam hari melakukan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, maka ia memerciki air pada wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang di malam hari melakukan shalat mala, lalu ia membangungkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka istrinya pun memerciki air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308 dan An Nasai no. 1148. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

Dalam kitabnya yang berjudul Lathoiful Ma’arif karya Sufyan Ats Tsauri halaman 331. Beliau mengatakan, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 331).

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita sehingga kita bisa menghidupkan satu bulan penuh bulan Ramadhan pada umumnya dan 10 hari terakhir khususnya dengan shalat malam dan amalan-amalan lainnya.

Beberapa Keringan Allah Pada Bulan Ramadhan

Beberapa Keringan Allah Pada Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci dan agung. Pada bulan tersebut senantiasa kita diperintahkan untuk berpuasa pada siang harinya dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Tetapi apabila kita sedang dalam keadaan tertentu yang disyaratkan, kita tentu bleh tidak melaksanakan puasa. Berikut adalah beberapa kemudahan Allah kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa:
Boleh tidak berpuasa bagi orang sakit.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 185,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”
Boleh tidak berpuasa bagi musafir (orang dalam perjalanan jauh).

Adapun jika merasa berat saat bepergian jauh, diperintahkan untuk tidak berpuasa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hasidt, Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar.” (HR. Bukhari, no. 1946 dan Muslim, no. 1115)

Namun kalau safar tersebut penuh kemudahan misal perjalanan yang hanya sebentar dengan pesawat (misal: Jogja – Jakarta, ditempuh hanya 1 jam perjalanan dengan pesawat), maka baiknya tetap berpuasa karena lebih cepat terlepas dari kewajiban. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

Tetapi jika perjalanan tersebut terdapat kemudahan, misalnya perjalanan hanya memakan waktu sebentar dengan jarak yang jauh dengan kemajuan teknologi. Maka baiknya tetap berpuasa karena lebih cepat terlepas dari kewajiban. Terdapat hadist dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ

“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari, no. 1945 dan Muslim, no. 1122)
Bagi orang yang sudah tua (tua renta) diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib m embayar fidyah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 184:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Al-Mughni, “Orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka dia boleh tidak berpuasa dan diganti dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Karena orang seperti ini disamakan dengan orang yang sudah tua.”


Inilah Alasan Menjauhi Sifat Pelit Di Bulan Ramadhan

Inilah Alasan Menjauhi Sifat Pelit Di Bulan Ramadhan


Semestinya, bulan suci Ramadhan kita sambut dengan penuh semangat untuk senantiasa beribadah tak terkecuali bersedekah. Setiap amal perbuatan yang kita kerjakan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT, jadi sebagai umat Islam hendaknya kita menghindari sifat pelit terutama pada bulan ini

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan di setiap akhir shalat dengan kalimat-kalimat berikut ini,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ ، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ

“Alloohumma inni a’udzu bika minal jubni wal bukhli, wa a’udzu bika min an urodda ila ardzalil ‘umur, wa a’udzu bika min fitnatid-dunyaa, wa a’udzu bika min fitnatil qobri.”

(Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina–yaitu kepikunan–, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur).” (HR. Bukhari, no. 6365)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari, no. 3554; Muslim no. 2307)

Dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif pada halaman 301, Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.”

Berikut ini adalah beberapa Alasan mengapa kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah di Bulan Ramadhan:

1- Setiap amalan yang dikerjakan pada bulan Ramadhan yang juga merupakan waktu yang mulia maka senantia akan dilipatgandakan pahalanya, termasuk bersedekah.

2- Giat untuk bersedekah pada bulan Ramadhan juga berarti membantu mereka yang membutuhkan, orang yang berpuasa, dan orang yang melakukan shalat malam. Dari sedekah yang kita berikan tentu akan membantu mereka agar lebih mudah beramal. Seperti sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan memberi makan buka puasa,



مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, no. 807; Ibnu Majah no. 1746; Ahmad, 5: 192; dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3. Allah juga berderma pada bulan Ramadhan dengan memberi umatnya rahmat dan ampunan-Nya dari api neraka, terlebih di malam-malam lailatul qadar.

4. Salah satu penyebab dimudahkannya masuk surga bagi seseorang adalah menggabungkan antara puasa dan sedekah.

Sahabat ‘Ali meriwayatkan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi, no. 1984; Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).


Fadhilah Puasa di bulan Ramadhan

Fadhilah Puasa di bulan Ramadhan

 




Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

Dalam ayat ini, Allah SWT menyeru kepada orang-orang mukmin. Allah menyeru kepada meraka untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan intim, dengan berniat ikhlas kepada Allah semata. Karena di dalam berpuasa itu terdapat penyucian jiwa, pebersihan dan penjernihan dari semua kotoran dosa dan akhlak yang buruk. Allah menyebut bahwa Allah mewajibkan puasa kepada mereka sebagaimana Allah mewajibkannya kepada orang-orang sebelumnya. Sehingga mereka memiliki teladan dalam hal tersebut. Oleh karenanya, hendaknya mereka sungguh-sungguh dalam melaksanakannya lebih sempurna dari yang telah dilakukan orang-orang sebelumnya.

Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata bahwa kandungan dalam ayat “Sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian” terdapat beberapa nilai:
Pentingnya puasa sebagaimana yang diwajibkan Allah kepada umat Islam sebelum kita. Ini merupakan bukti Allah cinta terhadap umatnya dan ibadah puasa Ramadhan wajib bagi setiap umatnya.
Sebuah isyarat dari Allah bahwa telah disempurnakannya agama bagi umat ini dengan berbagai keutamaan yang sudah ada pada umat-umat sebelumnya.
Dalam ibadah puasa, senantiasa menggembleng dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga ia akan selalu berusaha untuk menjauhi dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Selain hal itu, puasa juga senantiasa dapat meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kita. Karena setiap amalan yang kita perbuat akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Terdapat beberapa fadhilah yang niscaya kita dapatkan selama bulan Ramadhan, semoga dengan senantiasa kita berusaha, kita bisa mendapatkannya. Seraya kira senantiasa berdoa dan berharap kita dapat dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan selanjutnya. Karena bulan inilah sebagai bulan yang agung dan bulan yang penuh maghfiroh serta setiap amal perbuatan baik akan dilipatgandakan pahalanya.
Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan

Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan



Sebagai umat Islam, semestinya harus menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh ampunan serta keistimewaan ini dengan penuh suka cita. Pasalnya, apa pun kita kita kerjakan selama dalam hal kebijakan maka senantiasa Allah SWT akan melipatgandakannya. Semua amalan pada bulan ini haruslah kita laksanakan dengan lapang dada serta ikhlas hati seraya mengharap ridho Allah SWT.

Terdapat beberapa hal yang bisa kita pelajari selama bulan Ramadhan, yaitu:
  1. Belajar agar tidak mengharap pujian dari sesamanya. Terdapat sebuah hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad-Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al-Khudri. Nabi pun bersabda,

    الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

    “Syirik khofi (syirik yang samar) di manaseseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Sungguh Allah tidak akan memperdulikan orang-orang yang berbuat riya‘ (memamerkan amalan). Sebagaimana dijelaskan dalam hadits,

    قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

    “Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim, no. 2985).

    Lebih lanjut, Imam Nawawi rahimahullah menjelaska, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

  2. Senantiasa belajar untuk menyembunyikan amalan kebaikan sebagaimana kita menutupi keburukan kita. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

    “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965)

    Maksud dari kata al-khafi dalam hadits diatas adalah,

    الْخَامِل الْمُنْقَطِع إِلَى الْعِبَادَة وَالِاشْتِغَال بِأُمُورِ نَفْسه

    “Tidak terkenal (tidak masyhur), terasing untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan mengurus dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, 18:84)

    Intinya adalah orang-orang yang menyembunyikan amal kebaikannya termasuk hamba yang dicintai oleh Allah SWT.

  3. Beribadahb bukan karena untuk tujuan dunia. Contohnya ketika kita bersederkah, kita hanya ingin mendapat balasan duniawi (pamor) bukan semata-mata ikhlas karena Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam Al-Quran bahwa merugilah orang yang beramal yang mengharap dunia semata. Allah Ta’alaberfirman,

    مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

    “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20)

    Semoga dari Ramadhan ini senantiasa kita selalu menjadi hamba yang beramal seraya mengharap ridho Allah SWT semata tanpa tercampuri dengan hal duniawi. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap ridho Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Amalan Yang Digandakan Pahalanya Pada Bulan Ramadhan

Amalan Yang Digandakan Pahalanya Pada Bulan Ramadhan


Berkah dan ampunan senantiasa tercurahkan selama bulan Ramadhan yang terdapat banyak keutamaan. Oleh karenanya kita dianjurkan memperbanyak amal ibadah, setidaknya ada empat amalan yang akan dilipatgandakan apabila dikerjakan di bulan Ramadhan, sebagai berikut:
  1.  Puasa adalah ibadah wajib dan utama dikerjakan pada bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW , “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, berpuasa juga mengharuskan kita untuk menjaga diri dari maksiat. Pahala yang menyertai puasa otomatis akan berlipat ganda.
  2.  Tadarus Al-Quran adalah amalan lain yang sayang untuk dilewatkan, selain itu pahalanya juga akan berlipat ganda. Sehingga diibaratkan membaca satu huruf akan mendapat pahala yang berlipat ganda.
    Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).
  3. Salah malam sebagaimana anjuran Rasulullah SAW untuk melakukannya di bulan Ramadhan antara lain shalat tarawih, shalat witir, dan shalat tahajud.
    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah telah menfardhu-kan puasa Ramadhan dan aku telah men-sunnah-kan bagimu shalat di malam harinya. Maka barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dan shalat sunnah di malam harinya kareka iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, keluarlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh ibunya,” (HR. Bukhari dan Muslim).
  4.  Sedekah yang merupakan bagian amal jariyah yang tiada terputus pahalanya. Saat bulan Ramadhan Nabi Muhammad senantiasa menganjurkan kita untuk bersedekah, sebagaimana sabda Nabi, “Barang siapa memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad)
  5. Salah satu manfaat sedekah adalah menghapus dosa. Jika diibaratkan hidup seperti kertas putih, maka dose seperti tinta hitam yang mengotorinya dan sedekah dapat menghapus noda tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Itulah beberapa amalan yang akan dilipatgandakan pahalanya yang apabila dikerjakan selama bulan Ramadhan. Semoga senantiasa kita bisa meningkatkan amalan kita di bulan Ramadhan.

Amalan Nabi Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadha

Amalan Nabi Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadha


Puncak ibadah puasa Ramadhan adalah pada sepuluh hari terakhir. Bukan suatu yang luar biasa jika Rasulullah lebih meningkatkan ibadahnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidatina Aisyah, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, da membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari).

Banyak dari para ulama yang juga menganjurkan kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini tidak lain karena keutamaannya sangat besar. Dalam kitab Fathul Mu’in karya dari Zainuddin Al-Malibari, terdapat tiga amalan yang harus mesti dilakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Pertama adalah meningkatkan bersedekah, mencukupi kebutuhan keluarga, dan berperilaku baik terhadap suadara dan tetangga. Andaikan kita diberi kelebihan dan kecukupan harta, lebih baik kita manfaatkan harta kita untuk bersedekah misalnya menyediakan takjil bagi orang yang bepuasa sekadar segelas air.

Kedua adalah meningkatkan tadarus atau membaca Al-Quran. Sunnah hukumnya membaca Al-Quran dalam waktu apapun dan tempat bagaimapun kecuali pada tempat terlarang seperti toilet dan lain sebagainya.

Dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa lebih baik membaca Al-Quran di akhir malam daripada awal malam bulan Ramadhan dan juga waktu paling utama untuk membaca Al-Quran adalah setelah shalat subuh. Sebagaimana yang dijelaskan Abu Bakar Syatha bahwa lebih utama membaca Al-Quran pada malam hari karena lebih fokus daripada siang hari.

Ketiga adalah lebih memperbanyak i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW yang lebih meningkatkan ibadah salah satunya dengan i’tikaf di masjid di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tiga amalan diatas adalah amalan yang harus kita tingkatkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi mengharap ridha Allah SWT serta berharap mendapatkan malam lailatul qadar. Karena di malam lailatul qadar terdapat sebuah keutamaan bahwa ibadah pada malam ini lebih baik daripada amalan di bulan lain.

Semoga senantiasa kita dapat melaksanakan dan membiasakan ketiga amalan tersebut menjelang akhir Ramadhan ini. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan malam lailatul qadar yang memiliki keutamaan daripada seribu bulan.