Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan

Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan



Sebagai umat Islam, semestinya harus menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh ampunan serta keistimewaan ini dengan penuh suka cita. Pasalnya, apa pun kita kita kerjakan selama dalam hal kebijakan maka senantiasa Allah SWT akan melipatgandakannya. Semua amalan pada bulan ini haruslah kita laksanakan dengan lapang dada serta ikhlas hati seraya mengharap ridho Allah SWT.

Terdapat beberapa hal yang bisa kita pelajari selama bulan Ramadhan, yaitu:
  1. Belajar agar tidak mengharap pujian dari sesamanya. Terdapat sebuah hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad-Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al-Khudri. Nabi pun bersabda,

    الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

    “Syirik khofi (syirik yang samar) di manaseseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Sungguh Allah tidak akan memperdulikan orang-orang yang berbuat riya‘ (memamerkan amalan). Sebagaimana dijelaskan dalam hadits,

    قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

    “Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim, no. 2985).

    Lebih lanjut, Imam Nawawi rahimahullah menjelaska, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

  2. Senantiasa belajar untuk menyembunyikan amalan kebaikan sebagaimana kita menutupi keburukan kita. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

    “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965)

    Maksud dari kata al-khafi dalam hadits diatas adalah,

    الْخَامِل الْمُنْقَطِع إِلَى الْعِبَادَة وَالِاشْتِغَال بِأُمُورِ نَفْسه

    “Tidak terkenal (tidak masyhur), terasing untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan mengurus dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, 18:84)

    Intinya adalah orang-orang yang menyembunyikan amal kebaikannya termasuk hamba yang dicintai oleh Allah SWT.

  3. Beribadahb bukan karena untuk tujuan dunia. Contohnya ketika kita bersederkah, kita hanya ingin mendapat balasan duniawi (pamor) bukan semata-mata ikhlas karena Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam Al-Quran bahwa merugilah orang yang beramal yang mengharap dunia semata. Allah Ta’alaberfirman,

    مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

    “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20)

    Semoga dari Ramadhan ini senantiasa kita selalu menjadi hamba yang beramal seraya mengharap ridho Allah SWT semata tanpa tercampuri dengan hal duniawi. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap ridho Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.