Lebih Bersemangat Pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Lebih Bersemangat Pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan



www.kiminovel.com -- Memang tidak seperti kebanyakan orang modern seperti sekarang ini yang pada akhir bulan Ramadhan justru sibuk memikirkan mudik dan baju lebaran. Nabi Muhammad SAW malah lebih giat lagi dalam melaksanakan ibadah. Bahkan beliau meninggalkan hal yang bersifat keduniawian dengan alasan untuk menggapai malam lailatul qadar.

Terdapat dalam kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani, yaitu hadist nomer 698 sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Ada beberapa nilai yang dapat kita petik dari hadist diatas, diantaranya:

  1. Dalam hadist di atas menjelaskan keutamaan melakukan amal sholih pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Memang pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan tersendiri dari hari lainnya. Ibadah tersebut dapat mencakup dzikir, shalat, dan tadarus Al-Quran.
  2. Terdapat dua alasan mengapa Nabi Muhammad SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu:
    a- Pada 10 hari terakhir tersebutlah penutup bulan Ramadhan yang diberkahi oleh Allah SWT dan setiap amalannya akan dinilai dari akhirnya.
    b- Pada 10 hari terakhir tersebut diharapkan akan mendapat malam lailatul qadar. Saat seseorang lebih giat beribadah di hari-hari tersebut, maka ia lebih muda mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
  3.  Dari hadist tersebut menjelaskan himbauan untuk membangunkan keluarga agar bisa mendorong mereka untuk melaksanakan shalat malam. Terlebih lagi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
  4.  Dari hadist tersebut juga menjelaskan himbauan untuk menasehati keluarga dalam hal kebaikan dan menjauhi dari hal-hal yang tidak terpuji.
  5. Anjuran untuk membangunkan keluarga tidak hanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan tetapi juga pada hari-hari lainnya. Hal itu juga disebutkan keutamaannya dalam hadist yang lain, yaitu:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang di malam hari melakukan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, maka ia memerciki air pada wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang di malam hari melakukan shalat mala, lalu ia membangungkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka istrinya pun memerciki air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308 dan An Nasai no. 1148. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

Dalam kitabnya yang berjudul Lathoiful Ma’arif karya Sufyan Ats Tsauri halaman 331. Beliau mengatakan, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 331).

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita sehingga kita bisa menghidupkan satu bulan penuh bulan Ramadhan pada umumnya dan 10 hari terakhir khususnya dengan shalat malam dan amalan-amalan lainnya.